Cerbung : Mozaik Santri

Toko Buku Online Belbuk.com

Mozaik 1

Proffesor Mumtaz Jidan

Kututup Alquran kecil yang sedari tadi kubaca, kumasukan pada saku baju koko.Kuedarkan pandangan, kemudian menatap lekat sebuah bangunan berlantai dua, sebuah kuban dan di sampingnya beberapa menara: masjid.
Terdengar nyaring ribuan santri mendengarkan tilawah bak suara tawon di depan sarangnya.Kutatap kembali menara yang berdiri tegap, menara tempat bernaung para penuntut ilmu.

Beberapa meter di depanku sebuah sepeda kumbang melaju dengan suara klentreng yang khas, sepeda Qismul amni (1).
Aku duduk di sebuah bangku depan asrama, berderak kagum dan merinding mengetahui keberadaanku di sini, Gontor.

Hem.., kuraih tas disampingku, mengambil laptop dan menghidupkannya, aku terlonjak riang, akses wifi gratis, segera ku-klik mozila kemudian mengetik huruf di google map: Gontor.

Iseng-iseng kuketik juga alamat web facebook., tak lama kemudian halaman google map terbuka, kuamati, ku zoom lokasi itu: Gontor. Aku berdecak kagum, delapan puluh tahun lebih pondok ini berdiri masih eksis bahkan melebarkan sayap, sepertinya cita-cita Pak Zar membuka 1000 Gontor semakin dekat didepan mata.

Ku-klik halaman facebook mengetik e-mail, paswoard dan login : 15 permintaan pertemanan, 20 pemberitahuan dan 17 kotak masuk.
Lama juga aku tak online di facebook buktinya banyak e-mail yang masuk. 15 permintaan teman, tak ada yang kukenal biarlah aku add saja, silautarrahim. Pemberitahuan, kebanyakan pemberitahuan komentar tulisan di note facebook-ku . 17 kotak masuk, kebanyakan ingin berkenalan hingga jariku berhenti menggeser mouse, e-mail ke-12 dari seseorang yang aku kenal : berkaca mata, berdahi lebar, dan bernama akun profesor Mumtaz jiddan.

Assalammualaikum wr,wb. Kaifa halukum akhi? antum bikhoir? Antum masgul la? Antum aina? madza ta’mal? (2)
Hem…. ciri khasnya tak pernah pudar dimulai dengan pertanyaan beruntun-membrondong, setelahnya mengalirlah untaian kalimat berikutnya.


Kuberitahukan satu hal padamu kawan, hal yang paling menyenangkan dalam bermimpi adalah kejadian-kejadian yang menakjubkan pada proses penggapaiannya. ku beritahu juga kawan bahwa hinaan, ejekan, bahkan hujatan adalah batu loncatan terbesar menuju kesuksesan, cambuk keras yang akan memacu adrenalin untuk pekerja, berbuat terbaik untuk menjawab hinaan, ejekan bahkan hujatan itu.

Kembali aku menyungging senyum, kata-katanya mirip Andrea Hirata – penulis Laskar Pelangin nan tersohor itu. Maklum saja, mereka berasal dari propinsi sama Bangka Belitung, bedanya Andrea Hirata dari pelosok belitung, sementara ia (temanku) dari antah berantah Pulau Bangka.

“Kau sudah tahukan kawan bahwa istriku sudah lama mengandung? alhamdulillah malam tadi bayiku lahir dengan selamat: laki-laki bukan kepalang senangnya aku, jauh-jauh hari telah kami siapkan 5 nama untuknya 2 dari istriku, 2 dariku satu lainnya dari kakek-neneknya, kami bingung milih yang mana, tolong kau pilihkan salah satu yang terbaik, kami nurut sama kau, 3 hari dari sekarang nama itu harus sudah kau pilih, ini daftar nama-nama itu:- Muhammad Fiqri El mumtaz- Fatih Addin El mumtaz- Hamid Islamy El mumtaz- Sholah Addin El mumtaz- Harfan Efendi El mumtaz-“

Aku geleng-geleng kepala, kupikir semua nama itu hasil karyanya sendiri. Bagaimana tidak kesemuanya nama islami berakhiran El mumtaz. Kubaca tulisan selanjutnya unik sekali e-mail nya, memenggal bagan tulisan dan menyelipkan foto-foto bayi mungilnya,

“Shohiby, ana juga ingin ber-khobar kalau tanggal 25 Mei nanti ana di wisuda, S2 di Universitas Muhammadiyah Palembang antum labud hadir hina dzaaka labud, idza la, itabi fagot? Soal dana 100% ana tanggung deh insyaAllah.

Ana ingin menyaksikan sendiri bahwa retasan mimpi itu semakin menjadi nyata ana ingin antum melihat dengan mata kepala sendiri bahwa jalan menuju profesor itu membentang di depan mata, satu dua langkah lagi akan kurengkuh.Antum datanglah kesini, insyallah kami jamu istimewah, jauzati tob’an tafroh tanzhurukum, sekali lagi masalah akomodasi ana siap tanggung yang penting ana hadiri, anggap ini sebagai ucapan terimakasih ana untuk antum.Ana u’idu marrotan tsaniyatan la’budda an tahduro huna, hina dzaka, fahimtum!!!Shohibukum fi falimbangMumtaz jidanQ-am ‘08

Nb: he he……mar’ah huna jamilah-jamilah lho ba’ad ana abhas lakum wahidah-“

Fuih ….. aku membuang nafas, lagi-lagi menyungging senyum, e-mail yang benar-benar unik- seunik penulisnya, bisa-bisanya ia mengubah kata ganti aku dengan kata ana kemudian isi suratnya sendiri begitu to the poin dan setengah memaksa. Kenapa juga ia mengabarkan berita penting ini lewat facebook, kenapa tidak sms atau telepon saja, apakah dia lupa nomerku? Kemudian ia menulis “Q’am 08” diakhir suratnya “masihkah ia mengingat masa itu, masa ia menjabat sebagai qismul amn munazhomah?” Tanyaku dalam hati .

Dan yang lebih menggelitik dalam Nb-nya ia menguji kecantikan wanita Palembang, sementara ia sendiri malah “menculik” seorang mojang priangan untuk menjadi istrinya, aneh,…..

Kuraba saku celana kemudian merogoh handphone, ingin ku telephon profesor Wannabe itu. Aku rindu suaranya, gelak tawa dan tentu saja ingin mendengar suara tangis bayi kecilnya.

Kupijit tombol, berbarengan dengan itu suara adzan menggema kuurungkan niat menelepone, sejenak terhanyut pada nida’ itu .
Berdengung keras memanggil, sekaligus mengingat lalai manusia yang terlena akan dunia, aku bergerak memasukan laptop, beranjak menuju masjid, melangkah mantap.

Bersambung…

1). Bagian keamanan

2) Assalamualaikum wr wb, bagaimana kabarnya, antum baik? antum sibuk ga? antum dimana? (bhs arab)
***
Cerita ini ditulis sekira Juni 2010. Karena itu, jangan bully soal tanda baca, dll nya ya… Maklum…

Btw, ada yang mau lanjutan ceritanya? Kalau ada 50 likes, insyaAllah akan diposting episode lanjutannya…

Be Sociable, Share!

Tinggalkan komentar