Kisah Dunia Pendidikan : Guru Zaman Dulu dan Guru Zaman Sekarang

Kisah Dunia Pendidikan : Guru Zaman Dulu dan Guru Zaman Sekarang

Yandi Hidayatulloh, S.Pd.

            “Pak, Bu, tadi Dede dimarahi Bapak Guru!” ungkap seorang anak mengadu kepada orang tuanya. “Emang Dede salah apa hingga Bapak Guru memarahi Dede?” tanya orang tuanya. “Dede telat masuk kelas setelah istirahat, karena Dede tadi keasyikan main bola.”

“De, itu Bapak guru mengajari Dede agar disiplin waktu dan tidak melaupakan apa yang menjadi kewajiban Dede. Bukan memarahi. Kalau kejadiannya seperti itu, Bapak dan Ibu juga pasti menegur Dede.”

“Ya sudah, Dede minta maaf dan Dede tidak akan mengulangi kesalahan Dede lagi.” Pungkas sanga anak saat mengadu kepada orang tuanya.

Dialog singkat antara anak dan orang tua tersebut rasanya agak jarang bahkan mungkin sama sekali tidak pernah kita dengar belakangan ini. Belakangan ini yang ada orang tua langsung mendatangi sekolah dan menghampiri sang guru untuk dimarahi bahkan untuk dilaporkan ke pihak berwajib (polisi), seakan guru tak jauh beda dengan perampok, pembunuh, pezina, pecandu narkoba dan teroris yang dengan mudah dilaporkan dan diberlakukan layaknya penjahat kelas kakap.

Belakangan ini banyak gambar yang dibuat oleh pihak yang “masih” ada cinta terhadap dunia pendidikan khususnya guru, dengan menuliskan “Jika anaknya tidak mau diatur oleh aturan sekolah, oleh guru oleh dunia pendidikan. Silakan orang tua bawa anaknya, buat kelas sendiri, buat kurikulum sendiri dan buat sekolah sendiri.”

Tulisan tersebut menjadi angin segar (motivasi) untuk guru mampu bersikap dan tidak dipandang sebagai “penjahat” yang mudah dlaporkan ke pihak yang berwajib. Bahkan menurut KH. Mustain Syafi’i dalam tulisannya di Majalah Risalah NU menyatakan ,”Orang tua yang tidak punya kepasrahan kepada guru, merendahkan dan menghina, meskipun anaknya pintar dan selalu rangking pertama, penulis (KH Mustain Syafi’i) yakin, anak itu tidak akan berkah ilmunya, tidak akan mulia di masyarakat nanti. Itu sunatullah, karena Tuhan tidak terima bila pewaris para Nabi yang tulus mengemban ilmu dan menyebarkan kepada umat direndahkan.”

Pernyataan KH. Mustain Syafi’i selaku Mudir Madrasatul Quran Tebu Ireng Jombang tersebut keluar atas kemirisannya didunia pendidikan, dengan banyaknya orang tua yang melaporkan guru anaknya ke aparat keamanan. Sebagaimana tulisan beliu yang penulis kutip,”… Begitu mudah laporan itu (orang tua) disikapi, baik oleh polisi, HAM, atau KPAI dan ditindaklanjuti secara hukum. Pada persoalan ini acap kali guru dalam posisi lemah tanpa pembelaan.”

Dikutipan lainnya beliau menyatakan,”Ketahuilah anak murid adalah anak manusia. Ada yang langsung mengerti sekadar dengan pelototan mata. Ada yang sadar setelah dinasehati dan ada yang baru sadar setelah diberi sanksi fisik. Sanksi pendidikan bukan kekerasan dan bukan penganiayaan. Tak beda dengan orang dewasa banyak sekali yang berhenti maling, setelah dihajar masa dan dipenjara, bahkan tak berhenti sama sekali, meski beberapa kali masuk bui.”

Memang jauh berbeda posisi dan penghargaan guru zaman dahulu dengan zaman sekarang. Semoga dengan tulisan ini mampu menguatkan guru-guru yang dengan ikhlas mendidik dan mengajar siswa untuk mampu ber”sikap.” Kepada orang tua semoga mampu mengukur dan mawas diri ketika akan melakukan pelaporan terhadap guru yang katanya “salah”. Betapa hebatnya guru mampu mendidik dan mengajar siswa yang jumlahnya jauh dengan jumlah anak “asli” mereka di rumah. Kepada pihak yang memiliki kewenangan menindak, agar lebih mensortir antara “laporan” yang disampaikan. Sebab, aparat penegak hukum menjadi penegak hukum, sedikit banyaknya karena jasa guru mengajari “beliau-beliau” mampu membaca, menulis, berhitung dan disiplin, dan semoga berdampak pada kemampuan “beliau-beliau” mensortir laporan.

Ingin putra putri anda berakhlak mulia? Masukan ke pesantren yuks. Info lebih lanjut klik di sini

Demikianlah Kisah Dunia Pendidikan : Guru Zaman Dulu dan Guru Zaman Sekarang. (Yandi Hidayatulloh/ Koresponden Ganesha)

Be Sociable, Share!

Leave a Comment