Teks Tanggapan Deskriptif : Klasifikasi, Telaah dan Revisi Teks

Teks Tanggapan Deskriptif : Klasifikasi, Telaah dan Revisi Teks

 

Yandi Hidayatulloh, S.Pd.

            Setelah membahas dan mempelajari Teks Tanggapan Deskriptif, bahasan selanjutnya membicarakan klasifikasi, telaah dan revisi atau perbaikan teks. Tentunya teks yang dimaksud adalah Teks Tanggapan Deskriptif. Sebagai tindaklanjut bahasan sebelumnya yang membicarakan definisi, struktur, kebahasaan dan contoh, bagian ini akan lebih merinci lebih detail mengenai bentuk Teks Tanggapan Deskriptif.

Klasifikasi memiliki makna kelompok, sedangkan mengklasifikasikan memiliki makna mengelompokan atau membagi ke dalam beberapa bagian. Jadi, mengklasifikasikan teks Tanggapan Deskriptif adalah mengelompokan Teks Deskriptif. Misalnya ;

  1. Berdasarkan objek yang dideskripsikan
  2. Dan cara mendeskripsikan.

Berdasarkan objek yang dideskripsikan, Teks Tanggapan Deskriptif dibedakan menjadi dua, yakni teks deskripsi orang dan teks deskripsi benda. Berbiacar teks deskripsi orang sudah barang tentu menggambarkan orang secara fisik atau hal lainnya yang ada dalam diri seseorang tersebut, seperti wajahnya bulat, berkumis, dan memiliki rambut ikal, sedangkan teks deskripsi benda, lebih menggambarkan benda mati yang bisa digambarkan secara fisik maupun cara dan fungsi benda tersebut. Berikut ini akan dijelaskan secara rinci kedua jenis teks deskripsi tersebut berdasarkan contohnya.

  1. Deskripsi Orang

Teks deskripsi orang merupakan deskripsi yang menggambarkan seseorang. Hal-hal yang dideskripsikan adalah hal-hal yang menarik dari seseorang yang kita deskripsikan. Deskripsi ini bertujuan agar pembaca atau pendengar merasa seolah-olah dapat melihat orang yang dideskripsikan tersebut. Berikut ini beberapa hal yang dideskripsikan ketika kalian mendeskripsikan orang.

  1. Keadaan Fisik

Fisik merupakan bagian tubuh seseorang. Keadaan fisik meliputi keadaan tubuh seseorang yang dapat dilihat langsung. Misalnya bagaimana bentuk tubuhnya (fisik), bagaimana bentuk tubuhnya, apakah lurus, keriting, bergelombang, panjang, pendek atau sama sekali tidak memiliki rambut? Ada tidaknya kekhasan dalam diri orang tersebut misalnya ada tidaknya tahi lalat di wajah, atau ada warna hitam di lehernya atau ada tanda lain diwajahnya. Hal ini sama dengan menggambarkan keadaan fisik seseorang.

Contoh deskripsi orang :

“Panglima Besar Jendral Sudirman dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916, dan gugur pada tanggal 29 Januari 1950. Beliau merupakan panglima besar pertama dan dalam usia yang sangat mudah. Tubuhnya yang kurus dan kecil tidak menjadi halangan untuk memimpin perang yang sangat terkenal yakni perang gerilya. Jendral Sudirman selalu mengenakan mantel yang tebal dan sangat longgar ditubuhnya, mantel tersebut seakan menjadi ciri khasnya, hampir setiap patung yang ada di beberapa daerah di Indonesia memiliki pose patung yang sedang mengenakan mantel besarnya. Beberapa tahun sebelum gugurr, jendral Sudirman menderita sakit hingga paru-parunya hanya berfungsi satu. Namun walaupun sakit fisik, semangat juang embela tanah airnya sangat tinggi, hingga rasa sakitnya terkalahkan sampai beliau menutup mata pada usia 34 tahun.”

Pada teks di atas, sangat jelas penggambaran sosok Panglima Besar jendral Sudirman, seperti yang ada pada kalimat,” Tubuhnya yang kurus dan kecil tidak menjadi halangan untuk memimpin perang yang sangat terkenal yakni perang gerilya” dan pada kalimat,” Beberapa tahun sebelum gugurr, jendral Sudirman menderita sakit hingga paru-parunya hanya berfungsi satu. Namun walaupun sakit fisik …”

  1. Deskripsi Watak atau Perbuatan

Setiap orang memiliki sifat, karakter atau watak. Dalam kenyataannya mendeskripsikan watak seseorang memang agak sulit. Saat mencoba mendeskripsikan, maka harus memperhatikan kebiasaannya, tingkah lakunya, aktivitas-aktivitas yang dilakukan, pekerjaan, atau jabatan termasuk hobinya.

Contoh :

“Arif Yanyan Nurdiana adalah siswa MTs di Kabupaten Ciamis. Kesehariannya tinggal di pondok Pesantren Nurul Huda. Arif berangkat ke sekolah cukup pagi yakni pukul 06.00. Namun, karena jarak antara pesantren dan sekolah cukup jauh, Arif baru sampai ke sekolah pukul 06.45. Sesampainya di sekolah, dia bersama kawannya melaksanakan shalat Dhuha dengan bimbingan gurunya. Sesekali juga Arif diminta untuk menjadi imam shalat Dhuhur oleh guru, karena kefashihannya dalam membaca ayat suci Al-Quran. Selain rajin, Arif pun sangat hormat kepada ibu dan ayahnya, dan soal prestasi Arif masuk tiga besar di kelasnya, bahkan menjadi peringkat pertama.”

Pada teks di atas, terdapat penggambaran watak atau karakter yang dimiliki oleh seseorang yakni Arif. Hal tersebut tergambar pada kalimat,” Sesekali juga Arif diminta untuk menjadi imam shalat Dhuhur oleh guru, karena kefashihannya dalam membaca ayat suci Al-Quran,” dan pada bagian ,” Arif pun sangat hormat kepada ibu dan ayahnya, dan soal prestasi Arif masuk tiga besar di kelasnya, bahkan menjadi peringkat pertama.”

  1. Deskripsi Tempat

Deskripsi tempat adalah penggambaran suatu tempat dengan sejelas-jelasnya sehingga pendengar atau pembaca merasa seolah-olah melihat tempat yang dideskripsikan. Ada dua cara yang dapat kalian gunakan untuk mendeskripsikan tempat. Kedua cara itu sama baiknya asal kalian harus teratur dan menyebutkan apa saja yang dilihat. Tujuannya agar pembaca jelas dan maksud kalian tercapai. Marilah kita pelajari cara mendeskripsikan tempat satu persatu.

  1. Bergerak secara teratur menelusuri tempat itu dan menyebutkan apa saja yang kita lihat.

Contoh :

Tugu Monas yang menjulang tinggi melambangkan lingga (alu atau antan) yang penuh dimensi khas budaya Indonesia. Pelataran penopang tugu berbentuk cawan yang melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia zaman dahulu. Di sekeliling tugu terdapat taman yang sangat luas. Di sudut yang lain juga terdapat dua buah kolam dan di sampingnya ada beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga pada hari-hari libur. Monas sangat penuh dipadati pengunjung ketika akhir pekan, hal itu disebabkan monumen nasional ini sangat dibanggakan dan memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi bangsa Indonesia. Kalau Cina memiliki tembok besar, Prancis memiliki Menara Effel, begitu juga Indonesia memiliki simbol monumen nasional.

  1. Dimulai dari kesan umum yang diikuti dengan hal-hal menarik perhatian.

Contoh :

Monumen nasional atau yang sangat populer dengan nama singkatannya Monas atau tugu Monas adalah sebuah monumen peringatan yang merupakan salah satu simbol Kota Jakarta. Lokasi monumen ini tepat di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Monas memiliki tinggi 132 meter (433 kaki). Menurut cerita sejarah, monumen ini didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah pemerintah presiden Soekarno dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Semangat perjuangan yang menyala-nyala tersebut dilambangkan dengan lidah api yang dilapisi lembaran emas di puncak tugu. Monumen nasional ini menjadi simbol bangsa Indonesia baik untuk sekala internasional, maupun menjadi simbol Jakarta dibandingkan dengan tempat lain, seperti Surabaya yang memiliki simbol patung Buaya, dan tempat lainnya.

Menelaah dan Merevisi Teks Tanggapan Deskriptif

Sudah mengenalkah kalian dengan kata telaah atau menelaah suatu bacaan? Rasanya sudah tidak asing lagi kata menelaah di telingan kalian. Namun, di bagian ini kita akan mengetahui lebih jelas mengenai menelaah Teks Tanggapan Deskriptif. Kata menelaah berasal dari bentuk dasar telaah dan imbuhan me(N)-, yang berarti mengkaji, meneliti dan sebagainya. Jadi, menelaah teks tanggapan deskriptif berarti mengkaji dalam teks tanggapan deskriptif meliputi :

  1. Judul teks,
  2. Kalimat topik,
  3. Deskripsi isi,
  4. Kaidah kebahasaan : pemilihan kata, susunan kalimat dan penerapan ejaan.

Selain hal tersebut di atas ada hal lain yang harus diperhatikan, yakni harus mengetahui syarat-syarat paragraf yang baik. Sebuah paragraf tersusun atas beberapa kalimat. Kalimat-kalimat yang menyusun paragraf tentunya harus saling berhubungan satu dengan lainnya. Kalimat kedua tentunya menjelaskan kalimat sebelumnya, begitu juga kalimat ketiga pasti akan berhubungan dengan kalimat yang keempat. Kalau itu terjadi, paragraf tersebut dapat dikatakan koheren atau padu.

Oleh karena itu, tidak semua kumpulan kalimat dapat dikatakan sebagai sebuah paragraf, dan tidak semua paragraf dapat dikatakan sebagai paragraf yang baik. Kumpulan kalimat yang saling berhubungan dan memenuhi persyaratan tertentu sajalah yang dapat dikatakan sebuah paragraf. Paragraf yang baik henaklah memenuhi persyaratan : kesatuan, kepaduan, kelengkapan dan urutan.

Paragraf hendaknya hanya memuat satu kalimat topik dan setiap paragraf hendaknya memiliki unsur kelengkapan, yaitu memiliki beberapa kalimat penjelas yang bisa berupa fakta-fakta atau contoh-contoh. Selain itu, kalimat-kaliamt yang membangun paragraf tersebut hendaknya benar-benar saling berhubungan. Secara lengkap, syarat paragraf yang baik adalah sebagai berikut ;

  1. Kesatuan (Unity)

Dalam satu paragraf hanya ada satu kalimat topik atau hanya ada satu gagasan utama. Dengan begitu, pendengar atau pembaca akan mudah memahami maksud penggambaran kalian. Apabila ada sebuah paragraf yang memiliki dua kalimat topik, paragraf tersebut dapat dikatakan tidak memiliki unsur kesatuan. Paragraf harus memperlihatkan suatu maksud dengan jelas, yang biasanya didukung oleh sebuah kalimat topik atau kalimat utama.

  1. Kepaduan (Cohenence)

Paragraf yang baik harus memperlihatkan hubungan antarkalimat yang erat. Paragraf yang dibangun dari kalimat-kalimat yang loncat-loncat berarti paragraf tersebut tidak koheren atau tidak padu.

  1. Kelengkapan (Completeness)

Paragraf dikatakan lengkap apabila dibangun atas beberapa kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik. Paragraf dikatakan tidak lengkap apabila hanya dikembangkan dan diperluas dengan pengulangan-pengulangan atau kurang memiliki kalimat penjelas yang memadai.

  1. Keruntutan/ Urutan (Orderly)

Urutan ini berhubungan dengan kalimat-kalimat yang membangun paragraf hendaknya memiliki urut-urutan ide secara logis. Syarat ini mirip dengan kepaduan. Hanya saja, untuk urutan, kalimat yang membangun paragraf hendaknya memiliki keruntutan.

Dengan memperhatikan beberapa hal di atas dalam membuat sebuah Teks Tanggapan Deskripsif, maka akan mendapatkan hasil teks yang sesuai, baik secara struktur maupun secara syarat paragraf dan kaidah penyusunan sebuah teks.

Teks Tanggapan Deskriptif : Klasifikasi, Telaah dan Revisi Teks

Be Sociable, Share!

Leave a Comment