Contoh Esai Anti Korupsi: Mari Peduli Berjamaah Melawan Korupsi

Tas

Contoh Esai Anti Korupsi: Mari Peduli Berjamaah Melawan Korupsi

Prito Windiarto, S.Pd.

 

PENDAHULUAN

Indonesia yang dijuluki negeri zamrud khatulistiwa ini telah 70 tahun merdeka. Sebuah usia, yang, jika dinisbatkan pada manusia sudah memasuki usia dewasa, bahkan senja. Meski demikian, pada nyatanya, bangsa ini seperti masih merangkat, tertatih untuk bangkit. Jangan di level internasional, di level regional Asia Tenggara saja kita tertinggal. Paling tidak ukurannya adalah GNP (Perhasilan rata-rata tahunan).

Salah satu pangkal penyebabnya adalah merebaknya tindak pidana korupsi. Apakah benar korupsi semengerikan itu? Sebegitu besar mempengaruhi laju suatu bangsa (Indonesia). Jawabannya. Ya! Bayangkan saja, contoh kecil, mega proyek hambalang, triliunan rupiah uang menguap, lenyap. Itu hanya pada satu kasus, belum pada kasus lain, belum lagi kasus yang belum terungkat atau yang ditutupi. Betapa mengerikannya. Setiap tahun, bisa jadi ada ribuan triliun uang rakyat yang harusnya bisa bermanfaat masuk ke kantong-kantor para koruptor itu. Bayangkan, uang negara yang seharusnya digunakan untuk pembangunan bangsa malah ditilep untuk segelintir orang. Menyedihkan.

Lebih mengerikan lagi, berdasarkan data Transparancy International Indonesia bertengger di posisi ke 107 dengan skor 34 dalam aspek Corruption Persepsions indeks (CPI) di dunia. Artinya Indonesia termasuk negara bersih urutan 107. Sangat jauh dari negara terbersih pertama, yakni Denmark dengan skor 92. Sungguh memalukan.

Lebih menggiriskan lagi, fakta bahwa korupsi hari ini tidak lagi –hanya- dilakukan oleh satu orang, satu kroni, satu kelompok, atau satu tingkatan, melainkan di banyak lini. Dilakukan banyak orang, bekerja sama dalam keburukan. Hingga muncul istilah korupsi berjamaah. Naudzubillah.

Istilah berjamaah, yang pada dasarnya bermakna positif (biasa digunakan dalam frasa salat berjamaah), kini malah coba lekatkan dengan hal negatif : korupsi . Hal itulah yang mendorong Dahnil Anzar Simanjuntak, ketua umum pengurus pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah menggulirkan apa yang disebut gerakan berjamaah lawan korupsi. (Republika.co.id, 20/1)

Gerakan melawan korupsi memang perlu digalakan di segala lini, pada semua tingkatan usia. Kalau perlu sedari dini. Lokomotif utamanya tentu saja pemuda. Mengapa? Karena pemuda adalah generasi penerus bangsa. Di tangan merekalah kelak bangsa ini akan dipimpin. Kalau mereka tidak melawan korupsi, namun malah mencintai korupsi, tentu hal tersebut akan menjadi tragedi.

Hal tersebut ditegaskan oleh Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Ade Irawan “Tentu kalau ditanya apakah pemuda penting melawan korupsi? Sudah pasti jawabannya penting, bahkan bukan fardhu kifayah lagi tetapi fardhu ‘ain.” (hidayatullah.com /28/10)

 

LANGKAH KONKRET MELAWAN KORUPSI

Seperti yang ditegaskan di atas, usaha melawan korupsi harus digalakan di semua lini, segala sisi. Proses ini bisa dimulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil.

 

  1. Melawan Korupsi dari Diri Sendiri

Perlawanan yang paling utama sejatinya adalah perlawanan dari diri sendiri. Bagaimana mungkin kita mengajak orang melawan korupsi sementara kita sendiri melakukan tindakan korupsi. Manakah mungkin menabuh genderang perang melawan korupsi jika kita sendiri yang melestarikannya. Ada beberapa hal yang kita bisa lakukan untuk melawan korupsi dimulai dengan diri sendiri dari hal kecil, diantaranya.

  1. Membiasakan tepat waktu

Entah sejak kapan, di Indonesia dikenal jam karet. Maknanya adalah ketaktepatan waktu. Acara di jadwal dimulai pukul 08.00, kemudian molor jam 9. Jadwal masuk jam 07.15, siswa datang jam 07.25, dll. Padahal ketaktepatan ini disadari atau tidak adalah bagian dari korupsi: korupsi waktu. Jika mental korupsi waktu ini dibiarkan, bahkan dilestarikan, bisa jadi akan memantik korupsi yang lebih nyata.”Ah, biasanya juga gapa.” Itu awalnya, kalau kebiasaan akan bahaya. Karena itu mari mulai dari diri sendiri membiasakan diri tepat waktu

  1. Tidak mencontek

Permasalahan ini jua kian menjamur, ketika ujian tiba sebagian kita (siswa / mahasiswa / umum) melakukan aktivitas mencontek. Padahal jika diresapi mendalam, aktivitas mencontek (mengambil hak orang lain), tak lain adalah bagian dari korupsi itu sendiri. Karena itu, sedari dini kebiasaan itu harus dienyahkan.

  1. Ketiga, tingkatkan iman. Ini sebenarnya pondasi kokohnya. Ketika iman mantap, niat korupsi akan lenyap. Semua agama, tentu mengharamkan tindakan hina bernama korupsi ini. Korupsi terjadi karena lemahnya iman.

 

  1. Melawan Korupsi Sesuai Peran Kita

Langkah berikutnya yang bisa kita lakukan adalah memanfatkan peran (posisi) kita dalam satu komunitas / keluarga. Jika diperusahaan kita diamanahi sebagai direktur, maka manfaatkan posisi itu untuk melawan korupsi. Berikan contoh yang baik pada karyawan, tindak tegas yang melanggar. Jika kita hanya sebagai karyawan, pastikan kita tidak melakukan tindakan curang. Kalau bisa ingatkan juga teman sejawat, atau kalau mungkin atasan kita. Apabila posisi kita “hanya” ibu rumah tangga, ingatkan suami-suami kita. Tanyai sumber penghasilan suami, ingatkan pentingnya menjaga integritas. Ucapkan dengan lantang, “lebih baik uang sedikit namun halal, daripada berlimpah uang hasil curang (korupsi).” Bukan malah sebaliknya menjerumuskan, “Ah sikat aja Mas. Ga apa-apa, gak ada yang tahu. Kan enak, kita bisa liburan bareng.”

 

  1. Melawan Korupsi Secara Berjamaah

Berjamaah secara harfiah berarti bersama-sama. Melawan korupsi secara berjamaah maksudnya suatu gerakan perlawanan terhadap korupsi (pencegahan dan pemberantasannya) secara bersama-sama. Gerakan yang dilakukan secara berjamaah (selayak salat berjamaah) lebih afdal tinimbang sendirian. Bukankah satu lidi tiada mampu menyapu kotoran? Ia bisa dilakukan jika diikat dalam ikatan bernama sapu. Begitu juga gerakan melawan korupsi, jika dilakukan sendiri kurang efektif. Kalau orang bija mengibaratkan gerakan yang dilakukan individu seperi buntut cicak, jika terputus ia terus bergerak namun lama kelamaan berhenti, kehabisan energi. Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menggalakan perlawanan secara berjamaah pada korupsi antara lain.

  1. Bergabung dengan organisasi / ormas / LSM anti korupsi.

Cukup banyak organisasi / ormas / LSM yang menyerukan perlawanan terhadap korupsi. Ambil contoh Madrasah Lawan Korupsi yang digalakan Pemuda Muhammadiyah. Dengan bergabung di organiasai banyak keuntungan yang diraih. Pertama, bergabung dengan orang yang seide dengan kita. Hal tersebut membuat bara semangat terus berkobar. Jika pun lemah, orang seorganiasai saling menguatkan. Kedua, berbagi info terbaru. Dengan bergabungnya kita dalam organisasi anti korupsi membuat kita selalu up to date terhadap info terbaru. Juga termasuk di dalamnya pengetahuan baru, misal perundangan dan payung hukum, dll. Ketiga, menjadi kekuatan yang dapat didengar. Jika kita bergerak sendirian, berteriak sekencang apa pun mungkin jarang orang mendengar. Berbeda jika kita bergabung dalam organiasai, ratusan atau ribuan aspirasi tentu lebih didengar. Inilah keuntungan berorganiasai.

  1. Melapor jika melihat indikasi tindak pidana korupsi

Aktivitas ini mungkin terkesan individu, namun sejatinya adalah bagian dari berjamaah. Jika kita melihat indikasi korupsi, laporkan segera pada pihak yang berwenang (Kepolisian, Kejaksaan, KPK), atau mungkin organiasai yang konsen pada pemberantasan korupsi. Tindakan tersebut juga termasuk bagian dari berjamaah lawan korupsi.

 

 

PENUTUP

Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh warganya sendiri. Begutu halnya negeri kita. Jika kita ingin maju kita harus bahu-membahu berjamaah mengenyahkan penghalangnya. Salah satu penghalangnya adalah budaya korupsi. Karena itu sudah selazimnya kita berdiri gagah melawan. Mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil. Lantas gunakan peran kita. Jangan lupa bergabung dalam gerakan bersama melawan korupsi.

Di negeri ini sejatinya masih banyak orang baik dan bersih. Pertanyaannya? Mengapa banyak terjadi korupsi? Salah satunya adalah tingkat kepedulian yang rendah. Ungkapan, “Ah asal tak melibatkan saya.” “Ah itu mah urusan orang, terserah dia.” Menjadi potret ketakpedulian itu. Akhirnya korupsi di depan mata dibiarkan saja. Karena itu mari menjadi pribadi yang peduli. Peduli pada bangsa ini pada hakikatnya peduli pada diri sendiri. Enyahkan korupsi! Ganyang koruptor!

 

Demikianlah Contoh Esai Anti Korupsi: Mari Peduli Berjamaah Melawan Korupsi

Be Sociable, Share!

Leave a Comment