Contoh Cerpen Anak SMA : Diary Hati

Tas

Contoh Cerpen Anak SMA : Diary Hati

Prito Windiarto

            Jam dinding menunjukkan waktu pukul 03.45 dini hari ketika kusudahi witirku, berdoa khusyu.

“Sembari menunggu adzan shubuh, baca buku ah,” gumamku dalam hati, beranjak menuju tumpukan buku.

Cinta Suci Zahrana, Sebelas Patriot, Ranah 3 Warna atau……” Aku mencoba memilih beberapa judul, namun ternyata bukan-buku buku itu yang kuambil.

Di tanganku kini tergenggam sebuah buku catatan berukuran kecil, sebuah notebook. Notebook yang oleh santri pondok modern dipakai untuk menulis mufrodat [1] Bahasa Arab-Inggris, lazim disebut kutaib[2].

Tapi kutaib bersampul biru di tanganku itu bukanlah buku berisi kumpulan mufrodat, kutaib ini adalah sebuah diary, diary pribadiku.

Kubuka halaman pertama, tertulis mesra disana “The 3rd notebook, very secret”

Kubuka halaman demi halaman, sampai dihalaman ke-22 aku tertegun sesaat membaca judul diary.

“Surat Dari Banat”

Penasaran dengan judul itu kubaca diary perlahan.

 

Dear diary…

Malam ini hujan turun menghujam, dingin menusuk, sunyi menyergap, sepi sekali. Seolah ingin menertawakan kegundahanku.

Ry… aku bingung ry, kau tahu kenapa?

Tadi siang Akh[3] Zein Mahbub mengantarkan buatku sepucuk surat.

“Dari orang spesial, awas jangan sampai ketahuan riayah[4]!” Begitu pesannya.

Nah… ketika jam belajar malam, kubaca surat bersampul biru itu sembunyi-sembunyi di beranda masjid, takut ketahuan qismul amni[5].

Kau tahu Ry… surat dari siapa? Kau pasti kaget, jujur akupun setengah tidak percaya, ternyata surat itu dari si jenius Husna Zahra, Zahratul ma’had[6] teman-temanku bilang. Dan Ry… yang membuatku tak percaya lewat kata bersayap nan puitis ia memujiku, menyanjungku bahkan dia ingin mengenalku lebih jauh. Tentu Ry… siapapun pasti akan tersanjumg bila dipuji olenya, dadanya pasti kebat-kebit. Akupun merasakan itu Ry, entahlah ada sejuk yang menelusuk. Kesejukan yang sulit aku uraikan lewat kata-kata. Tapi Ry… tiba-tiba saja kegelisahan menyergapku. Kau tahu kenapa? Dia… dia… ingin menjadikanku teman spesial, teman yang lebih dari seorang teman, kau paham Ry?….

Sungguh aku tak mengerti kenapa ia ingin menjadikan hubungan aku dan dia lebih dari hubungan persahabatan. Padahal kami baru bertemu beberapa kali, terakhir di liburan semester 2. Itupun untuk urusan marhalah[7].

Ah kiranya permasaolahan ini tak sesederhana menerima atau menolak permintaannya, permasalahan ini begitu runyam, permasalahan maslahah dan mudharat.

Ry…. Maaf ya

Nanti aku sambung lagi, sudah setengah sebelas nih, aku harus segera tidur, nanti kalau ketahuan qismul amni bahwa aku belum tidur, bisa-bisa kena damprat. Maaf ya Ry lain kali disambung lagi.

Kobong Salman Al farisi

Malam hujan, 12 mei 2006.

______________________________

Bingung?

Nyambung lagi nih Ry, khisoh [8] ini pelajaran balaghah, kebetulan Ustadz Yazid berhalangan masuk, beliau sedang mengikuti rapat IKPM di kota Tasikmalaya. Beliau menyuruh kami membaca di perpustakaan. Ah…. Tapi entahlah hari ini aku sedang malas membaca, tak ada salahnya mengajakmu bercerita, boleh kan?

Tadi pagi bakda subuh aku mengungkapkan masalahku ini pada Akh Farid, rois[9] konsulku. Beliau menyarankanku untuk memilih yang kiranya paling maslahat bagiku.

Ente harus paham, ukuran maslahat itu bukan hawa nafsu, ukuran maslahat yang dimaksud adalah maslahat menurut hukum syara’, takaranNya.” Begitu Akh Farid mengakhiri nasihatnya.

Dan akun tercekat, “maslahat menurut takaranNya, bukan hawa nafsu?” Ah ya sedikit banyak aku mengerti maksudnya.

Begitulah Ry…. Percakapanku tadi pagi sedikit melegakan hatiku, ah aku harus istikhoroh tampaknya. Bismillah.

Perpustakaan

Pagi menjelang siang, 13 Mei 2006

_______________

 

Ry… ini minggu tergelisah dalam hidupku. Dua hari lalu aku ambil keputusan perihal permintaan Husna. Setelah melewati proses shalat istikhoroh aku memutuskan tak mengabulkan permohonannya menjadi teman hatiku. Aku memintanya menjadi sahabat biasa saja. Sejatinya aku merasakan degup yang sama dengannya. Tapi…. aku takut hubungan khusus itu malah akan mengotori hati kami. Akan membuat fokus belajar berkurang. Kutulis alasan-alasan itu sehalus mungkin dengan bahasa terlembut yang aku bisa. Aku tak ingin menyakitinya.

Entahlah Ry… Perihal perasaan ini, aku berkeyakinan jika dia jodohku maka akan kembali jua, kelak. Di hari yang tepat. InsyaAllah.

Demikian dulu ya Ry, malam ini aku mau belajar dulu, beberapa hari lagi ada tes hafalan Al Qur’an. See You.

Kobong Salman Al Farisi

06 Mei 2006

 

Adzan berkumandang keras dari masjid terdekat, hanya 25 meter di depan kosanku, aku menutup diary biru itu, kemudian beranjak menuju rumahNya.

***

Bakda subuh tak biasanya aku melamun seperti ini.

“Ah kenapa tiba-tiba saja aku tertarik membaca diary kecil itu, diary yang mengingatkanku pada seseorang, apakah ada hubungannya dengan pertemuanku dengan Rahman Al Aziz kemarin sore?” Tanyaku dalam lamunan.

Ketika aku sedang asyik melihat-lihat buku di Dahlan Book Store, tiba-tiba ada seseorang menepuk pundaku, karuan saja aku terkejut. Aku menoleh, demi melihat siapa yang menepuk amarahku sirna berganti suka cita.

“Rahman …….?” Desisku

“Tian…” balasnya.

Kami berpelukan erat, bahagia sekali bertemu teman lama. Teman santri ketika mondok di Matlaul Huda Banjar dulu..

Anta min aina faqot[10]?” tanyanya memulai pembicaraan

Maujud.. ana huna, askun fi Bandung[11]” jawabku

Begitulah, setelahnya kami berbincang ngalor-ngidul di debuah café sebelah Dahlan Book Store, ah percakapan nostalgia yang menyenagkan.

Eh, ta’rif la ana ala’an qorib ma’a man[12]?” tanyanya.

“Nga tahu tuh,” jawabku polos.

“Hehe, ana lagi pedekate ma bintangnya marhalah kita, sang Zahrotul ma’had!” Ucapnya girang.

“Siapa?” tanyaku mengernyit.

“Masa nggak tahu… Husna lho, Ustadzah Husna Zahra.”

“Oh…” aku ber-oh ria. Demi mendengar nama itu jantungku berdegup lebih kencang, untunglah seterusnya aku bisa menguasai diri.

”Kalau ente sama siapa?” tanyanya lagi

”Wah kalau Ane mah masih sendiri Akh, joker gitu -seperti nama kelas kita dulu,” jawabku setengah berkelakar.

”Joker? Jomblo-Jomblo Keren maksudmu?”

”Yoi!” jawabku mantap.

Sejam bercengkrama, kami berpisah, tak disangka Rahman memberiku dwilogi padang bulan yang baru saja dibelinya. ”pengerat silaturahim” ucapnya ketika menyerahkan novel itu.

 

Silau caya mentari memutus lamunan. Segera kuberanjak menuju kamar mandi. Selepanya mencari sarapan. Tepat pukul setengah tujuh aku berangkat.

Kampus SMPN 2 Bandung tempat mengabdiku saat ini. Jarak sekolah dan kosanku tak terlalu jauh, cukup naik angkot satu kali.

***

Tak terasa tiga bulan berlalu cepat. Sebulan terakhir jadwalku begitu padat, pagi mengajar sampai siang, sore memberi les tambahan kelompok belajar ”Fikrah”, bimbingan mading ”Tasta” juga menjadi trainer mentoring Rohis.

Alhamdulillah semua berjalan lancar, kini saatnya liburan. Yes! Nampaknya liburan tahun ini akan menyenangkan. Kami anggota Marhalah Panther akan mengadakan reuni. Reuni akbar, semua anggota diwajibkan hadir.

Michael Wardana si masiris[13] tahun ini lulus dari Al Azhar. Bang Mumtaz juga akan terbang dari Palembang bersama mojang-pujaan hatinya. Hendra Kustiana sang Rois Marhalah yang kini tinggal di Riau siap hadir. Dan hebatnya Mang Halwani, sang jawara Banten itu berjanji akan memboyong Permaisuri dan dua putra kembarnya dalam acara reunian nanti.

”Alangkah semarakmya!” gumamku.

Dan tentu dalam acara reunian nanti Rahman Azizy sang jutawan marhalah Panther-lah yang akan menjadi pusat perhatian. Betapa tidak, tak seorangpun menyangka beliau yang semasa nyantri terkesan kaku dan angkuh kini menjelma menjadi pengusaha muda nan sukses, distributor herbal terbesar di priangan timur. Senyum mengembang tampak menghisasi harinya, ia tampak begitu ceria, cool dan dewasa.

Setelah pertemuan di Dahlan Bookstore itu, beberapa kali kami bertemu lagi.

 

***

Malam beranjak cepat, pukul 22.00 WIB, baru saja aku menggores tinta di diaryku -rindu berbincang dengannya-.

Aku beranjak menuju pembaringan, kemudian berbaring terlentang. Tapi mataku sulit terpejam. Padahal seharusnya aku terlelap agar besok bangun lebih segar, bukankah besok akan berangkat ke Banjar untuk menghadiri reuni akbar?

Entahlah rasanya mata ini sulit mengatup, obrolan via telepon sore tadi masih terngiang.

”Akh Tian, antum bisa bantu ana ga?” Tanya suara di seberang.

”InsyaAllah, inistatho’tu, jika mampu.”

”E… antum dua minggu lagi sibuk ga?”

”Insya Allah enggak, kan masih liburan, kenapa gitu?”

”Alhamdulillah. Gini Akh, kami e… ana dan…. Husna, mehohon antum untuk berkenan menjadi saksi akad nikah kami 18 juli nanti.”

Aku tercekat,

”Husna menikah?” gumamku

”Kenapa Akh? Keberatan?”

”Oh… tidak-tidak, ana tidak keberatan, tapi kok mendadak ya? Menurut ana sih alangkah lebih baik seandainya orang penting lah yang menjadi saksi di akad nikah kalian. Akh Hendra Kustiana atau Ustadz Yazid kiranya lebih pantas.”

”Afwan Akh memang mendadak. Tapi Husna ingin antumlah yang menjadi saksi pernikahan nanti, begitu Akh. Bersedia ya?!”

”Eh…. gimana ya, afwan juga, sepertinya ana belum bisa menjawab sekarang, nanti ana hubungi lagi kalau sudah ada keputusan,” jawabku sedikit kalut.

Sambungan telepon ditutup.

 

”Hu…..h” Aku membuang napas menatap langit-langit bercat putih.

”Aggh Tian! kenapa kau tak iyakan saja permintaan Akh Rahman itu, bukankah menjadi saksi pernikahan termasuk kebaikan?” Mendengung suara di telinga kanan

”Heeei! Masa kau tega menyakiti hatimu sendiri, menyaksikan dengan mata kepala sendiri wanita yang kau impikan menjadi ratumu, bunda bagi putra-putrimu menikah dengan orang lain?” Mendengung suara di telinga kiri.

Limbung!

”Astaqfirullah al azhim!” Kuusapkan tangan ke wajah. Bangkit mengambil wudhu, bersimpuh dihadapNya.

”Ya Rabb jauhkan aku dari hasad, dengki, dan iri!”

Kuberanjak kembali ke pembaringan, mencoba menutup mata, berdoa semoga dianugerahi ketenangan, dijauhkan dari kecamuk pikiran.

”Ayo Tian tidur! Tidur! Serahkan semua padaNya!” Bujuku pada diri.

Di tengah tasbih, aku melayang menuju alam mimpi. Mimpi baik atau buruk? Entahlah…..

 

 

 

Army-rukre 7-030610

Untuk si kecil Husnaya, salam untuk Abi dan Ummi-mu

 

Cerpen ini murni fiksi yang sebagian dilatari kisah nyata, so bila ada kesamaan/kemiripan nama, tempat atau certita harap maklum –he kayak sinetron aja ya-

Salam teruntuk anak-anak Glaiver wa Salsa, kapan reuni akbar teh atuh? Hehe.

***

 

#Pernah dimuat di Tabloid Ganesha

Prito Windiarto.

[1] Kosa kata

[2] Artinya buku catatan kecil

[3] Akh : Pangilan sopan bagi orang lebih tua atau sebaya

[4] pengasuhan santri

[5] Bagian keamanan

[6] Bunganya pondok

[7] Angkatan

[8] Jam pelajaran

[9] Ketua konsul (kumpulan (perserikatan) santri per daerah asal)

[10] kamu dari mana saja?

[11] Ada, ana disini tinggal di Bandung

[12] eh, tahu ngak sekarang aku sedang dekat dengan siapa (bahasa arab ala pondok)

[13] sebutan untuk pelajar/mahasiswa yang menuntut ilmu di mesir

 

Demikianlah Contoh Cerpen Anak SMA : Diary Hati

Be Sociable, Share!

Leave a Comment