Contoh Resensi Buku Pengetahuan Non-Fiksi

Contoh Resensi Buku Pengetahuan Non-Fiksi

Indonesia, Saatnya Bangkit dari Ketergantungan dan Keterbelakangan

 

Meresensi buku pengetahuan merupakan salah satu materi pelajaran bahasa Indonesia kelas 9 SMP. Materinya sangat penting, karena itu kami hadirkan Contoh Resensi Buku Pengetahuan Indonesia, Saatnya Bangkit dari Ketergantungan dan Keterbelakangan

 

Contoh Resensi Buku Pengetahuan Non-Fiksi

Contoh Resensi Buku Pengetahuan Non-Fiksi Resensi buku indonesia ketergantungan dan Keterbelakangan

Judul               : Indonesia : Ketergantungan dan Keterbelakangan

Penulis             : Sritua Arief & Adi Sasono

Editor              : Herdi Sahrasad, Dani Setiawan

Penerbit           : Mizan

Cetakan I        : Februari 2013

Tebal               : 223 Halaman + xxxviii

Peresensi         : Prito Windiaro*

 

Tidak diragukan lagi, Indonesia adalah sebuah negeri dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Negeri yang terdiri atas ribuan pulau ini memiliki sumber mineral melimpah, seperti timah, batu bara, gas, biji besi, dan lain sebagainya. Belum lagi sumber daya hayati, pertanian, perikanan, kelautan, perkebunan, kehutananan, sektor pariwasata dan banyak lainnya. Kenyataan itu selayaknya berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya. Namun di lapangan, fakta menunjukkan kebalikan.

Tahun 2012, tercatat utang pemerintah mencapai Rp. 1.950,8 triliun. Benar-benar angka yang fantastis. Sementara itu, penduduk miskin masih terhitung banyak. Kantong-kantong kemiskinan terdapat di kota dan di desa. Salah satu sebab keadaan ini adalah pendistribusian kue pembangunan yang tidak merata, dan penguasaan pusat ekonomi oleh sekelompok elit, sementara rakyat jelata hanya menjadi penonton.

Dalam buku “Indonesia, Ketergantungan dan Keterbelakangan” ini penulis mencoba menjelaskan sebab keterbelakangan negeri ini. Duet penulis ini memaparkan teori ketergantungan yang membagi kategori negara menjadi dua, yakni a. negara maju dan b. negara dunia ketiga. Dalam hal ini negara-negara dunia ketiga (termasuk Indonesia) akan selalu dibuat tergantung pada negara maju, dan ketergantungan ini dimanfaatkan oleh negara maju untuk mengeksploitasi mereka. Lebih jauh juga dikemukakan pemikiran tiga pencetus utama tesis ketergantungan, yakni Andre Gunder Frank, Theotonio Dos santos, dan Samir Amin.

Buku yang terdiri dari enam bab ini juga menyingkapkan bahwa keadaan dan fenomena yang terjadi yang terjadi di era gobalisasi ini sejatinya sudah dibentuk dan distrukturkan oleh negara maju. Salah satu contohnya IMF dan Bank Dunia yang mencoba membuat negara dunia ketiga (termasuk Indonesia) memiliki ketergantungan terhadap negara maju dengan pengucuran pinjaman yang pada gilirannya mendikte negara dunia ketiga harus menjadi negara industri.

Kenyatan tersebut pada akhirnya membuat negara yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya sejak 7o tahun lalu ini masih “terjajah” pada beberapa lini, terutama ekonomi. Sumber daya alam yang seharusnya didayagunakan demi kesejahteraan rakyat malah “diserahkan” kepada perusahaan-perusaaan asing. Perusahaan asing itu mengeruk kekayaan ke laur negeri dan membiarkan masyarakat sekitar hanya gigit jari.

Buku yang ditulis oleh dua orang pejuang ekonomi kerakyatan ini bisa menjadi cerminan betapa banyak hal yang harus dibenahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, lebih khusunya bidang ekonomi. Buku ini semakin unik karena juga menyertakan otobituari Prof. Dr. Sritua Arief, yang berisi kesan terhadap sikap, pemikiran dan perjuangan penulis yang sudah wafat beberapa waktu lalu itu.

Buku ini layak dibaca guna memperkaya khazanah keilmuan, khususnya dalam bidang ekonomi. Pada gilirannya kehadiran buku ini semoga bisa mendorong agar rakyat bangsa ini segera berbenah serta bangkit dari ketergantungan dan keterbelakangan.

Selamat membaca!

Wallahu A’lam Bishowab.

***

 

*Prito Windiarto, Pimpinan Umum KPS (Komunitas Pena Santri). Mahasiswa Universitas Galuh Ciamis. Twitter: @pritowindiarto

 

Be Sociable, Share!

Leave a Comment