Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye

Tas

Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye : Pulang Menuju Hakikat Kehidupan Sesungguhnya

Peresensi : Prito Windiarto*

Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye

Novel Pulang Karya Tere Liye

Judul                : Pulang

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : Republika Penerbit

Kota terbit       : Jakarta

Cetakan VII    : November 2015

 

 

Pendahuluan

           Setelah sukses membesut Rindu (terbitan Republika, 2014) yang mencetak best seller, Tere Liye hadir kembali dengan novel barunya, Pulang. Penulis yang telah menghasilkan lebih dari 20 buku ini menghadirkan novel dengan tema dan genre yang berbeda tinimbang novel-novel sebelumnya. Tema yang dihadirkan adalah perihal perjalanan sang tokoh utama mengarungi kehidupan melewati satu pertarungan ke pertarungan berikutnya demi memeluk erat kesedihan dan kebencian lantas menuju ujung yakni pulang ke hakikat kehidupan.

 

Sinopsis Novel Pulang Karya Tere Liye

         Novel ini dimulai dengan ketegangan. Bab pertama, Si Babi Hutan (halaman 1), dibuka dengan adegan pertarungan sang tokoh utama (Bujang) melawan monster menakutkan, babi hutan raksasa. Ia ikut serta bersama pemburu babi hutan pimpinan Tauke Muda. Di tengah hutan gelap mereka dihadang sang raja babi. Semua terdesak. Bujang tampil amat heroik. Mengalahkan sang monster. Sejak pergulatan itu, Bujang tak lagi memiliki rasa takut.

          “Aku tidak takut. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” Begitu Tere Liye membuka cerita dengan amat elegan.

          Pada bab-bab berikunya mulailah dikenalkan secara lebih mendalam tokoh Bujang beserta orang terdekatnya. Bapaknya bernama Samad. Ia yang lumpuh itu -kemudian diketahui- merupakan mantan tukang pukul nomor satu Keluarga Tong. Mamaknya bernama Midah, ia merupakan putri dari Tuanku Imam, pemuka agama di Pulau Sumatra. Pernikahan kedua insan dari strata dan kultur berbeda itu menyebabkan mereka harus terusir dari kampung, lantas menetap di Talang (semacam kampung) Kawasan Bukit Barisan, Sumatra.

         Kejadian melawan babi hutan menjadi awal kisah hidup baru bagi Bujang yang waktu itu masih 15 tahun. Tauke Muda mengajaknya pergi ke kota. Ia meminta Bapak dan Mamak Bujang mengizinkannya pergi. Bapaknya setuju, mamaknya berat melepaskan. Namun ia tak kuasa menolak. Ini adalah bagian dari perjanjian antara Bapak Bujang dengan Tauke Muda. Lagi pula ia ingin putra semata wayangnya itu maju. Tak hanya berkutat dengan hutan dan ladang di Talang. Sebelum keberangkatan sang anak, mamak menitipkan pesan yang begitu berharga,

          “Berjanjilah kau akan menjaga perutmu (dari makanan dan minuman haram dan kotor) itu, Bujang. Agar…. Agar besok luka, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik yang putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” (Halaman 24)

         Keseruan kisah novel ini terus berlanjut. Kini pembawa dibawa menuju waktu 20 tahun kemudian. Saat Bujang, anak Talang nan malang itu berubah menjadi pribadi yang sangat mantap. Akademis, kokoh, dan bermata tajam. Ia menemui calon presiden terkuat. Memperingatkannya agar tak mengubah apapun. Tak mengusik bagaimanapun bisnis Keluarga Tong yakni bisnis shadow economy (ekonomi bayangan).

           “Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, atau prostitusi, judi dan sebagainya. Itu adalah masa lalu shadow economy, ketika mereka menjadi kecoa hitam dan menjijikan dalam sistem ekonomi dunia. Hari ini, kita bicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai, yang semuanya dikendalikan oleh institusi ekonomi pasar gelap. Kami tidak dikenal oleh masyarakat, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tak diliput media massa….. Kami berdiri di balik bayangan. Menatap sandiwara kehidupan orang-orang. (Halaman 30)

        Begitulah penulis, dalam hal ini disampaikan lewat tuturan tokoh utama (Bujang) menjelaskan perihal shadow economy, singkat, jelas, terperinci, dan menghentak.

          Selepas itu alur kembali berkelindan ke masa lalu. Saat kali pertama Bujang sampai di kota. Bertemu banyak kawan baru. Salah satunya Basyir, seorang anak muda yang terobsesi menjadi seperti  ksatria penunggang kuda suku Bedouin. Kini jelas apa tujuan Bujang diajak oleh Tauke Muda. Ia akan dilatih seperti bapaknya, menjadi tukang pukul nomor satu Keluarga Tong.

         Meski begitu, jauh panggang dari api. Harapan itu menguap, bukannya berlatih silat dan beladiri, Bujang malah diminta belajar “memukuli kertas dengan pulpen” dibimbing Frans, guru asal Amerika. Bujang bosan. Ia lantas meminta Tauke mempersamakannya dengan teman yang lain: berlatih beladiri dan ikut operasi.

          Tauke tetap pada pendirian. Hingga tiba saat kesabarannya hampir habis, Tauke menantang Bujang ikut ritual amok. Ritual itu simpelnya, satu orang melawan puluhan bahkan ratusan petarung. Jika satu orang itu mampu menahan gempuran dalam waktu tertentu, ia menang. Bujang hanya diminta bertahan dua puluh menit. Sayang ia hanya bertahan 19 menit. Ia gagal, sehingga ia tetap harus belajar bersama Frans.

         Namun hikmah dari peristiwa amok, ia bisa punya kesempatan belajar bela diri. Selepas belajar dengan buku dan pulpen di siang hari, ia belajar tinju di malam hari. Guru pertamanya adalah Kopong. Komandan tukang pukul Keluarga Tong. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia berlatih, amat keras. Akhirnya Bujang berhasil meng-KO gurunya itu. Itu artinya latihan tinjunya selesai dan harus berganti guru.

         Guru berikutnya tak kalah hebat, Guru Bushi namanya. Asli Jepang, ia adalah salah satu Samurai yang masih tersisa di zaman modern ini. Bersama Guru Bushi Bujang berlatih menggunakan pedang, katana, shuriken, dll. Latihan yang seru bersama mantan ninja yang andal itu. Berbulan-bulan Bujang terus berlatih. Hingga tiba saat Guru Bushi mengatakan cukup. Lantas Bujang berlatih dengan Salonga. Seorang penembak jitu asal Filipina. Dengan guru menembaknya itu ia juga belajar filosofi hidup. Selain berlatih beladiri, Bujang juga terus melanjutkan sekolah. Ia bahkan mengenyam pendidikan magister di luar negeri.

      Novel beralur maju mundur ini terus mengajak pembaca menikmati keseruan cerita. Pertarungan demi pertarungan yang mengesankan. Jua perihal ekspansi Keluarga Tong yang perlahan merangkak naik level dari penguasa shadow economy tingkat provinsi menjadi penguasa shadow economy nasional bahkan internasional. Selalu ada intrik menarik di dalamnya.

       Hingga di satu titik. Saat Keluarga Tong di puncak kejayaan, pengkhianat muncul. Siapakah pengkhianat itu? Berhasilkah ia melumat kekuasaan Keluarga Tong? Lalu apa maksud pulang dalam novel ini? Kita akan menemukan jawabannya dalam novel keren ini.

 

Kelebihan Novel Pulang Karya Tere Liye

Berikut adalah beberapa kelebihan novel pulang karya Tere Liye.

Pertama. Tema yang unik.

        Tema yang dihadirkan mengandung unsur kebaruan. Masalah ekonomi dihubungkan dengan dunia tukang pukul. Lebih jauh lagi dikaitkan dengan unsur relijius serta perjuangan dan nilai kepahlawanan. Pertautan yang tampak “mustahil” itu diracik sedemikian rupa oleh penulis menjadi racikan yang apik, sudut pandang yang ciamik. Penulis lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengungkapkan hal yang seolah maya (shadow economy) dengan amat gamblang dan terperinci. Tentu perlu riset yang amat dalam untuk menguak tabir itu.

         Meski harus diakui genre ini (ekonomi berbalut action), mengingatkan kita pada novel Tere Liye sebelumnya, Negeri Para Bedebah  dan Negeri di Ujung Tanduk.  Namun jelas Pulang hadir dengan suasana baru. Unsur lokalitas, dalam hal ini pedalaman Sumatra, dan unsur relijius menjadi pembeda yang nyata dengan dua novel sebelumnya itu.

 

Kedua. Sederhana.

          Menurut hemat peresensi, inilah kekuatan utama Tere Liye: sederhana dan apa adanya. Ia tak suka merumit-rumitkan sesuatu. Pilihan katanya secara umum mudah dicerna (walau ada beberapa yang perlu membuka kamus atau googling untuk tahu artinya). Namun secara keseluruhan sangat bisa dimengerti. Bahkan yang spesial adalah kemampuan Tere Liye menjabarkan sesuatu yang njlimet (ilmu ekonomi-red) secara gamblang dan jelas. Kemampuan menyederhanakan istilah inilah daya pikat utama seorang Tere Liye sehingga ia bisa diterima banyak kalangan.

 

Ketiga. Plot dan kejutan yang mengasyikan.

        Plot yang dihadirkan membuat pembaca penasaran untuk terus membaca kelajutan cerita. Berikut adalah contohnya.

          “Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang.” (Halaman 20). Kalimat seperti itu membuat pembaca penasaran, pertarungan hebat apa sih? Rasa penasaran tersebut menstimulus pembaca untuk terus membaca hingga tuntas, tanpa bosan.

         Selain itu alur maju mundur menambah rasa ingin tahu pembaca, baik masa lalu sang tokoh maupun cerita apa yang akan terjadi berikutnya.

        Kejutan-kejutan mengasyikan juga mewarnai novel ini. Sesuatu yang tak terbenak kemudian hadir menghentak. Contohnya adalah kejutan di bab “Tim Terbaik” dengan hadirnya White dan si kembar Yuki dan Kiko yang ternyata  punya kelindan dan hubungan dengan kehidupan Bujang sebelumnya. Dan tentu saja yang paling nendang adalah bagian pengkhianatan itu.

 

Keempat. Filmis.

         Kekuatan berikutnya dalam novel ini adalah agedan-adegan yang filmis. Kita seakan-akan diajak menonton pertunjukan, pertarungan hebat, di depan layar tiga dimensi (3 D). Bahkan lebih dari itu, pembaca seolah diajak berfantasi dengan hebat. Membaca novel ini kita dibawa dalam ketegangan pertempuran sekaligus (pada beberapa kesempatan) perihal kesenduan kisah hidup.

 

Kelima. Pesan moral yang kuat.

          Inilah nilai paling kuat dalam novel Pulang (juga novel Tere Liye sebelumnya). Sebuah karya yang baik memang sudah selazimnya menyisipkan pesan moral, baik tersurat maupun tersirat. Penulis yang kini tinggal di Bandung ini amat piawai membungkus nasihat dan pemahaman hidup dengan kemasan yang cantik. Pembaca sama sekali tak merasa digurui atau dikhotbahi.

            Lebih dari itu, apabila para ahli sastra menyebut bahwa sastra (termasuk novel) memiliki fungsi moral dan didaktif-edukatif serta bermanfaat guna melembutkan jiwa, memperhalus moral, maka menurut hemat peresensi, novel ini telah memenuhi kriteria tersebut. Salah satu buktinya adalah adanya amanat untuk tetap optimis melanjutkan hidup dan bangkit dari keterpurukan. Berikut kutipan pendukungnya.

            “Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit.” (Halaman 345)

 

Kekurangan Novel Pulang Karya Tere Liye

           Tak ada gading yang tak retak, begitu istilah yang familier kita dengar. Maknanya tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sempurna. Apatah lagi jika itu berkaitan dengan karya manusia yang memang tak sempurna. Berkaitan dengan novel ini, peresensi menemukan beberapa kekurangan. Kekurangan yang amat minoritas sebenarnya tinimbang banyaknya kelebihan yang dimiliki. Kekurangan ini tentu sudah sangat tertutupi dengan ragam keunggulan yang sudah peresensi terangkan di atas. Ulasan kekurangan (yang bersifat subjektif) ini bertujuan sebagai saran, semoga bisa menjadi perbaikan di masa depan.

 

Pertama. Beberapa adegan tampak seperti cuplikan film.

           Sah-sah saja sebenarnya bagi seorang penulis untuk menarasikan (dengan penyesuaian) beberapa cuplikan film. Hal seperti itu namanya influence (keterpengaruhan). Hal tersebut wajar. Karena di dunia ini, sejatinya, tidak ada yang benar-benar orisinal. Tentu ada unsur keterpengaruhan dari apa yang telah ada sebelumnya. Hanya saja memang, bagi sebagian orang, termasuk peresensi, beberapa adegan dalam novel ini mengingatkan pada beberapa cuplikan film action. Ingatan yang sedikit merusak kedalaman fantasi-imajinasi. Namun kekurangan itu tertutupi dengan banyaknya kejutan dan adegan hebat lain yang masih orisinal.

 

Kedua. Kesalahan penggunaan huruf kapital.

            Sebenarnya kekurangan ini amat remeh temeh. Jangankan menulis puluhan ribu kata, menulis seribuan kata saja (seperti) resensi ini tentu akan ditemukan typo (kesalahan tik), dll. Meski begitu tak ada salahnya kita ulas, semoga bisa menjadi bahan pembelajaran untuk pembaca.

         “Berjanjilah kau akan menjaga perutmu itu, Bujang.” (Halaman 24). Kata “kau” huruf K-nya seharusnya kapital karena merupakan kata sapaan. Jadi yang tepat, “Berjanjilah Kau akan menjaga perutmu itu, Bujang.”

            Hal tersebut juga ditemukan di halaman 339, “Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah.”

 

Ketiga. Kurang membahas penguasa shadow economy di negeri sendiri.

          Setelah peresensi selisik, Keluarga Tong, yang, (dalam cerita ini) merupakan salah satu penguasa shadow economy di negeri ini lebih banyak bersinggungan dengan penguasa shadow economy di negara lain, utamanya Hongkong dan Makau. Lalu bagaimana persinggungan dengan penguasa shadow ecomony lainnya di dalam negeri? Memang ada namun kurang tergarap maksimal. Mungkin ini sengaja untuk membatasi cerita agar tak melebar ke mana-mana. Meski begitu menurut hemat peresensi jika saja pembahasan tentang penguasa shadow economy dalam negeri lebih disinggung tentu hal tersebut lebih mantap. Meski begitu persinggungan dengan shadow economy negara asing menjadi nilai tersendiri dalam novel ini. Setting Hongkong, Makau, dan Filipina yang dideskripsikan apik menambah keindahan novel ini.

 

Simpulan

           Selaku pembaca (setia) karya-karya Tere Liye, jujur, peresensi merasa bangga. Bangga kenapa? Bangga atas perkembangan novelis kelahiran Sumatera Selatan ini. Salah satu yang mencolok adalah kemampuan menghadirkan banyak genre. Penyair muda, Muhammad Amirudin, menjuluki ayah Abdullah Pasai ini sebagai penulis serba bisa. Bayangkan, Tere Liye menghentak dunia literasi Indonesia lewat Hafalan Shalat Delisa yang bertema anak-anak, dilanjut dengan Moga Bunda Disayang Allah, lalu Serial Anak-Anak Mamak (Burlian, Pukat, Eliana, Amelia). Tak berhenti sampai di situ, ia menggarap genre lain, cinta remaja. Walau terkesan ringan, namun Tere Liye mampu mengemasnya amat mengesankan. Simak saja Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Berjuta Rasanya, Sepotong Hari yang Baru, Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah. Atau kumpulan qoute dan puisi Dikatakan atau Tidak Dikatakan itu tetap Cinta dan #About Love. Ia juga sukses menggarap tema seputar pertanyaan-pertanyaan hidup, lihat saja Rembulan Tenggelam di Wajahmu atau, yang terbaru, Rindu. Lebih dari itu, novelis yang merupakan suami Riski Amelia ini juga mampu meracik genre fantasi. Bumi dan Bulan adalah bukti sahih racikan hebatnya itu.

            Kembali ke Pulang. Novel ini menegaskan kemampuan sang penulis menulis genre ekonomi berbalut aksi (action). Bahkan novel ini memiliki nilai plus tinimbang novel bergenre mirip milik penulis. Nilai plusnya ada pada pengangkatan kearifan lokal (Sumatra) dan relijiusitas.

            Novel ini direkomedasikan bagi siapa pun yang ingin memahami makna pulang yang sesungguhnya.  Tak sekadar pulang dalam artian kembali ke rumah dan kampung halaman. Namun mengandung  makna pulang yang dalam. Pulang menuju hakikat kehidupan. Pulang ke arah kesejatian. Pulang, kembali padaNya. Pulang dengan segenap kerinduan dalam damai.

Selamat membaca!

 

Penutup.

        Sebagai penutup, izinkan peresensi menghadirkan beberapa kutipan berharga dari novel ini. Semoga bermanfaat.

            “Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apa pun penilaian kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar kalian. “ (Halaman 1)

           “Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain.” (Halaman 188)

“Hanya kesetiaan pada prinsiplah yang akan memanggil kesetian-kesetiaan terbaik lainnya.” (Halaman 207)

          “Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat tertunduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu dua keputusan membuat bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.“ (Halaman 262)

         “Kau tahu, Agam, hidup ini sebenarnya perjalanan panjang, yang setiap harinya disaksikan matahari.” (Halaman 336)

           “Tapi sungguh jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu, Nak. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kau lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.“ (Halaman 339)

           “Peluklah semuanya, Agam. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?” (Halaman 339)

           “Ketahuilah, Nak, hidup tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran.” (Halaman 340)

            Dan masih banyak yang lainnya. Bagi yang ingin versi lengkap, silakan miliki bukunya ya!

 

           Demikianlah rensensi novel Pulang karya Tere Liye, semoga bermanfaat. Jika berkenan, dengan sangat kami mohon pembaca berkenan berbagi (share) resensi ini. Agar semakin banyak yang bisa mengambil hikmah. Mohon juga berkenan berkomentar. Terima kasih, jazakumullah khoir.

 

***

*Prito Windiarto adalah guru bahasa Indonesia, penulis dan blogger. Beberapa resensinya pernah dimuat di berbagai media.

Be Sociable, Share!

16 thoughts on “Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye

    • Aamiin ya Rabb. Owh iya, makasih perbaikannya. Sudah dibetulkan. Seneng kalau yang memberi masukan seperti ini. Syukron telah berkunjung.

    • Aamin, semoga malah sebaliknya, sangat tertarik untuk membelinya. Hehe. Itu iklan clip on you kayanya, tapi pas saya buka gak ada. Iklan dari google adsense memang berganti-ganti. Makasih kunjungannya, tersanjung dikunjungi dan dikomentari mastah resensi.

    • Tak mengapa mbak dini Terima kasih berkenan mampir dan membaca tulisan sederhana saya… Saya sudah kunjung balik ke blognya lho..

  1. Setelah beberapa novel Tere Liye lainnya, tadi malam saya baru saja selesai membaca novel “Pulang” dan berjanji dalam hati akan mengomentarinya. Membaca resensi yang Bapak Prito tuliskan, saya acungi jempol. Pak Prito mengemukakannya dengan sangat baik. Saya setuju untuk semuanya, kecuali pada bagian yang Bapak tuliskan sebagai kekurangan (tentang adegan tampak seperti cuplikan film). Saya menikmati setiap kata yang menggambarkan adegan-adegan tersebut justru karena dapat mengimajinasikannya sebagaimana adegan dalam film. Mau bagaimana lagi? Hehe…
    Satu hal yang pasti, saya memuji penulis novel ini karena saya percaya bahwa ia pasti telah bekerja keras, tidak setengah-setengah dalam melakukan riset dan sebagainya sehingga dapat menghadirkan karya yang sedemikian berani dan beda. Diatas semuanya, saya meyakini bahwa kepadanya telah ditiupkan ilham cemerlang sehingga mampu menyalurkan pesan moral dan hikmah sarat makna bagi pembaca. Barakallahumma, aamiin..

    • Terima kasih telah berkunjung mba Aisyah.
      Sip, setiap orang punya persepsi masing-masing.
      Setuju bahwa beliau meriset dengan total. Aamiin. Barakallah juga. Jazakillah khoir.

Leave a Comment