Unsur-unsur Puisi : Unsur Lahir Puisi

Tas

Unsur-unsur Puisi : Unsur Lahir Puisi

 

Prito Windiarto, S.Pd.

 

Unsur-unsur Puisi

Sebuah puisi dibangun atas dua unsur yakni unsur lahir dan unsur batin. Beberapa ahli menyebut unsur lahir  sebagai metode puisi dan unsur batin sebagai hakikat puisi.

2.3.1   Unsur Lahir (Metode Puisi)

Unsur lahir puisi adalah struktur fisik atau struktur luar dari puisi. Sebagian ahli menyebut unsur lahir sebagai metode puisi. Waluyo (1987: 71) mengartikan metode puisi “Yakni unsur estetik yang membangun struktur luar dari puisi” Tarigan (1984: 28) menyebut unsur-unsur tersebut yakni:

1.      diksi (diction)

2.      imaji (imagery)

3.      kata nyata (the concrete word)

4.      majas (figurative language)

5.      ritme dan rima (rhythm and rime)

 

2.3.1.1       Diksi (Diction)

Diksi secara harfiah berarti pilihan kata. Ketika kita membaca puisi secara sepintas bisa jadi kita melihat sebagian kata-kata yang digunakan terkesan sama dengan kata-kata yang digunakan oleh masyarakat umum dalam kehidupan sehari-hari.  Namun jika kita kita selisik lebih jauh, ternyata kata-kata tersebut dipilih oleh penyair secara teliti.

Saat menulis puisi penyair memilih kata-kata secara cermat agar kata itu terkonsentrasikan dan terpadatkan maknanya. Penyair juga memilih kata-kata yang puitis sehingga menimbulkan efek keindahan.  Selain aspek makna, hal lain yang mempengaruhi pilihan kata penyair di antaranya latar sosial budaya, suku, pendidikan, agama, jenis kelamin, suasana,  situasi, dan sebagainya.

Waluyo (1987: 73) membahas hal-hal yang menyangkut pilihan kata yakni “Perbendaharaan kata, urutan kata-kata, dan daya sugesti dari kata-kata”

a.       Perbendaharaan kata

Perbendaharaan kata yang dimiliki penyair sangat penting dalam proses kreativitas menulis puisi. Semakin banyak perbendaharaan kata yang dimiliki, semakin kaya dan ekspresif pula puisi yang dihasilkan. Hal yang turut mempengaruhi perbendahraan kata penyair di antaranya adalah kebiasaan membaca. Penyair yang suka membaca tentu memiliki perbendahaan kata yang lebih banyak dari pada penyair yang jarang membaca.

b.      Urutan Kata (word order)

Urutan kata puisi bersifat beku, dalam artian tetap dan tidak bisa dipindah-pindah atau dibolak-balik susunannya. Urutan itu merupakan ciri khas penyair yang membedakannya dengan penyair lain. Hal itu ditegaskan oleh Waluyo (1987: 75) yang menyatakan “Penyair telah memperhitungkan secara matang susunan kata-kata itu. Jika diubah urutannya, maka daya magis kata-kata itu akan hilang.”

Perhatikan puisi karya Ade Batari berikut.

 

Selasar Zaman

Di selasar zaman tangan tak lagi menengadah. Barat Timur tak pula berbeda sebab matahari lupakan waktu. Seruan Tuhan tak lagi dikumandangkan hingga pagi ke pagi yang silih berganti. Tuhan tak lagi dicari sebab diri dirasa berkendali.

Di selasar zaman, pesolek renta mempercantik diri, pernak-pernik memenuhi lekukan tubuh, gelamor songsong zaman. Poles keriput berbedak menor. Tua jadi simbol kemegahan menua. (Jambi, 18 Agustus 2011).

(“Warna-warni Kehidupan, 2011: 34)

Puisi di atas diawali dengan kata keterangan “di selasar zaman”, baru kemudian subjek “tangan”. Urutan itu beku, tidak boleh dibolak-balik menjadi misal: tangan di selasar zaman tak lagi menengadah. Pembolak-balikan kata akan menghilangkan daya magis dan fokus makna yang hendak disampaikan penyair.

 

 

c.       Daya Sugesti Kata-Kata

Penyair memilih kata-kata dengan mempertimbangkan daya sugesti dalam kata-kata tersebut. Waluyo (1987: 77) menerangkan bahwa,

Daya sugesti itu ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat  mewakili perasaan penyair. Karena ketepatan pilihan kata dan ketepatan penempatannya, maka kata-kata itu seolah-olah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah, dan sebagainya.

 

Perhatikan pengalan bait puisi “Prolog Beringin Tua” karya Bunga Hening Maulidina berikut.

Kian jauh… samar-samar kudengar tangis

Dibelai sekumpulan mega menjelma gerimis

Hujan kian deras mengguyur kabut tipis

Seperti isak dalam hati sang gadis manis

 

Rabbi…ingin kuusap air matanya dan berpuisi

“Saat kau mengenal patah hati

Saat itulah kau belajar cinta haqiqi”

Sayang sekali…

Aku hanyalah beringin sunyi

Saksi bisu tentang cita cinta dan mimpi

(“Warna-warni Kehidupan, 2011: 32-33)

Larik-larik puisi di atas menampakan perasaan sedih, iba, belas kasih, sang penyair terhadap seorang gadis yang patah hati. Kata-kata penyair mampu mensugesti pembaca untuk ikut merasakan apa yang dirasakan penyair.

2.4.1.2.   Imaji (Daya Bayang)

Unsur lahir puisi selanjutnya adalah imaji (daya bayang). Pengimajian menurut Waluyo (1987: 78) “Adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.” Lebih jauh S. Effendi dalam Waluyo (1987: 80) mengungkapkan bahwa

Pengimajian dalam sajak dapat dijelaskan sebagai usaha penyair untuk menciptakan atau menggugah timbulnya imaji dalam diri pembacanya, sehingga pembaca tergugah untuk menggunakan mata hati untuk melihat benda-benda, warna, dengan telinga hati mendengar bunyi-bunyian, dan dengan perasaan hati kita menyentuh kesejukan dan keindahan benda dan warna.

 

Menurut Gumiati dan Mariah (2010: 20-23) berdasarkan indra yang digunakan pengimajian dapat dibedakan menjadi enam yakni, citraan pendengaran (auditory imagery), citraan penglihatan (visual imagery), citraan perabaab (tactil/thermal imagery), citraan gerak  (movement imageri atau kinestik imajery), citraan penciuman, dan citraan pencecapan.

a.       Citraan Pendengaran (Auditory Imagery)

Penyair menggunakan kata-kata yang mengandung citraan pendengaran dengan maksud agar pembaca seolah-olah bisa ikut mendengarkan  sesuatu yang ingin diperdengarkan penyair.

Akhirnya Kita ’Kan Kembali PadaNya

Faricha Hasan

Pagi

Aku berjalan di titian embun dini hari

Menapaki setiap inchi bayang mentari

Sayup samar terdengar alunan melodi elegi

 

(Kepingan Kehidupan #1, 2011: 86)

 

b.      Citraan Penglihatan (Visual Imagery)

Kata-kata yang mengandung citraan penglihatan membuat pembaca seakan-akan melihat  sesuatu yang bergerak-gerak sehingga objek yang digambarkan penyair dalam puisi tampak jelas di depan mata.

Kembara Masa

Talitha Huriyah

Dalam remang lentera kamar

Pandangan nanar berdebur gemetar

Menyibak lembaran masa dalam kalbu

Patahan pucuk-pucuk asoka di sela mega biru

Ricik kali dendang camar terbang

Tapak-tapak kaki kecil merekah riang

(Kepingan Kehidupan #2, 2011: 32)

 

c.       Citraan Perabaan (Tactil/thermal imagery)

Penyair dengan menggunakan kata-kata yang mengandung citraan perabaan menggiring pembaca seakan-akan dapat merasakan, menyentuh, dan meraba ketika membaca puisi yang ditulisnya.

 

Menjemput cahaya-Mu

Daud Al Insyirah

Siang yang terang, membuatku tersesat

Meraba pintu hati yang tersembunyi

Dan menjemput cahaya-Mu di siang ini.

Ya Rabb, jangan biarkan aku tersesat

(Kepingan Kehidupan #2, 2011: 38)

 

d.      Citraan Gerak (Movement imagery atau Kinetetik imagery)

“Citraan ini menggambarkan sesuatu yang sebetulnya tidak bergerak, tapi digambarkan seolah-olah bergerak” (Gumiati dan Mariah, 2010: 22).

Jejak

Efriany Susanty

 

Pekik tangis mengangkasa dikala fajar, seketika ruh baru mengabdi

Mengukir jejak dalam  hitungan waktu, merayap, merangkak, berjalan, berlari, berkelana bertemankan langit bersahabatkan bumi

(Kepingan Kehidupan #1, 2011: 67)

 

e.       Citraan Penciuman

Kata-kata yang digunakan penyair berhubungan dengan indra penciuman sehingga mempengaruhi pemabaca seakan-akan mencium aroma sesuatu.

Awal tangis, akhir tersenyum,

Awal tangis, akhir merana

 

Asri Bestari Rayawari

Dan dia pulang…

Jiwa yang tenang berpulang

Dan semerbak harum mengiringinya

Tersenyum dalam Ridho Illahi

(Kepingan Kehidupan #1, 2011: 41)

 

f.       Citra Pencecapan

 

Kata-kata yang disajikan penyair dalam puisinya membuat pembaca seolah-olah merasakan sesuatu dengan lidahnya, misalnya rasa pahit, manis, asin dan lain sebagainya.

Ayahku, ustadzku

Sarip Hidayat

waktu berlalu

aku dewasa,

ayah di usia senja

Langkahku jauh melaju

Pahit, manis dunia kurasakan

(Kepingan Kehidupan #1, 2011: 81)

 

2.4.1.3      Kata Nyata (Kata Konkret)

Imaji (daya bayang) pembaca dibangkitkan dengan menggunakan kata-kata yang diperkonkret. Maksudnya menurut Waluyo (1987: 81)  ialah bahwa “Kata-kata itu dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh.”  Tarigan (1984: 33) menjelaskan bahwa “Yang dimaksud kata nyata atau the concreate word adalah kata yang konkret dan khusus, bukan kata yang abstrak dan bersifat umum.”

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kata konkret adalah kata yang dibuat penyair sehingga mampu membangkitkan daya imaji pembaca  terhadap puisi yang diciptakannya.  Kata konkret membuat pembaca dapat membayangkan secara nyata peristiwa, kejadian, atau hal yang dilukiskan penyair.

Contoh, untuk melukiskan suasana setelah kelahiran bayi, Diena Rifaah Amaliah menggunakan kata-kata berikut.

Pada Satu Masa

Diena Rifaah Amaliah

di sebuah titik,

kita selalu saja merasa baru saja mendengar cerita bunda

saat pekik tangis menjadi penanda

lalu ayah menyeka matanya yang berkaca

bersiap mengajarkan sebuah ikrar

layaknya tasbih yang dengan lirih diam-diam terucap dari tiap tetes hujan

 

hingga hentakan tiap jejak mengingatkan kita

ternyata telah begitu jauh perjalanan dari masa tanpa tanya

berubah dengan resah untuk setiap delik mata, ucap kata, dan hentakan rasa

 

 

sebab waktu tak pernah ingkar

pada janji untuk terus membersamai nafas yang berhembus

tersenyum pada mereka yang memaknainya

dan tak peduli pada yang hanya terdiam tanpa satu pun langkah

maka bergeraklah!

(Kepingan Kehidupan #2, 2011: 17)

 

2.4.1.4      Majas (Bahasa Figuratif)

Cara lain yang digunakan penyair untuk menimbulkan imajinasi adalah dengan memanfaatkan majas (bahasa figuratif). Hal ini dikuatkan oleh pendapat Waluyo (1987: 83) yang menyatakan bahwa “Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismastis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.” Lebih jauh, Waluyo (1987: 83) mengungkapkan bahwa “Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk menyatakan sesutau dengan cara yang tidak biasa, yaitu secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.”

Perrine dalam Waluyo (1984: 83) memandang bahwa bahasa figuratif lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair, sebab:

1)      bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif

2)      bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam  puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca

3)      bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair

4)      bahasa figuratif adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat.

 

 

2.4.1.5           Rima dan Ritme (Versifikasi)

 

Rima dan Ritme berpengaruh besar dalam memperjelas makna sebuah puisi. Rima dan Ritme berkaitan dengan bunyi dalam puisi. Menurut Tarigan (1984: 35) “Ritma atau irama adalah turun-naiknya suara secara teratur, sedangkan rima atau sajak adalah persamaan bunyi.”

a.         Rima

Menurut Waluyo (1987: 90)  “Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi.” Lebih jauh Waluyo (1987: 90) menjelaskan bahwa “Pengulangan bunyi dalam puisi itu untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu jika dibaca.”

Sementara itu Sayuti dalam Gumiati dan Mariah (2010: 34) mengatakan bahwa “Persajakan (rima) adalah kesamaan dan atau kemiripan bunyi tertentu di dalam dua kata atau lebih, baik yang berposisi di akhir kata, maupun pengulangan bunyi yang sama yang disusun pada jarak atau rentangan tertentu secara teratur.”

b.      Ritme

Slamet Muljana dalam Waluyo (1987: 94) menyatakan bahwa “Ritme merupakan pertentangan bunyi: tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan.”

Lebih jauh Gumiati dan Mariah (2010: 35) mengungkapkan bahwa “Ritme sangat berhubungan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritme akan dirasakan bila puisi dibacakan.”

Be Sociable, Share!

4 thoughts on “Unsur-unsur Puisi : Unsur Lahir Puisi

Leave a Comment