Catatan Hati Seorang Guru: Menjadi Luar Biasa dari Tempat Biasa

Tas

Catatan Hati Seorang Guru: Menjadi Luar Biasa dari Tempat Biasa

Prito Windiarto

 

Beberapa orang mungkin menyesal berada di sebuah perusahaan/kampus/sekolah yang biasa-biasa saja, tidak elit. Merasa amat tidak beruntung dan merutuki nasib. Terlebih ketika melihat temannya yang berada di perusahaan/kampus/sekolah mentereng menggapai kesuksesan.  Rasa iri terbit, menggunung.  Jika ia dibiarkan tumbuh lebat, bukannya baik, malah akan membuat diri semakin minder.

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan?

Pertama, bersyukur.

Bersyukurlah saat ini berada di sebuah perusahaan/kampus/sekolah, lihatlah sekitar denga teliti, kita akan menemukan banyak teman kita yang menganggur atau putus sekolah/kuliah. Masih beruntung kita bisa bekerja atau sekolah.

Kedua, ubah sikap dan mental diri.

Setelah rasa syukur tergenapi saatnya mengubah paradigma berpikir. Orang sukses itu bukan di mana ia bekerja atau sekolah, melainkan bagaimana ia bekerja/sekolah. Sikap seperti apa yang ditunjukan. Orang yang bekerja di perusahaan elit, bersekolah di sekolah mentereng kalau sikapnya sikap mental pecundang buat apa? Kuliah di universitas bonafit kalau malas-malasan apa gunanya? Lebih baik sekolah di sekolah biasa namun bermental juara, menunjukan kesemangatan dan keuletan.

Ketiga, tunjukan kualitas diri.

Orang hebat yang dilahirkan dari kawasan hebat, luar biasa. Namun orang hebat yang lahir dari daerah biasa, sangat luar biasa. Inilah saat untuk menunjukan kualitas diri. Waktunya membuktikan kapasitas diri, walau bekerja di perusahaan biasa mampu memberikan warna. Belajar di sekolah biasa namun mampu mempersembahkan prestasi nan membanggakan. Bukankah itu amat istimewa?

Sekali lagi, jangan minder bekerja/belajar di perusahaan/sekolah yang menurut orang biasa-biasa. Toh itu hanya anggapan orang. Harusnya kita bersyukur. Bersyukur karena diberi banyak kesempatan membuktikan diri.

Coba saja kita berada di tempat/sekolah yang elit, belum tentu kita dapat kesempatan membuktikan diri. Itu terjadi karena saking banyaknya saingan. Sebaliknya kalau di sekolah yang biasa, yang biasanya tidak terlalu banyak orang, kita dipaksa untuk menjadi “apa-apa”.

Contoh soal di sekolah. Murid A yang belajar di sekolah  elit harus bersaing dengan ratusan temannya untuk menjadi perwakilan LCC (Lomba cerdas cermat). Sementara si B yang belajar di sekolah biasa hanya bersaing dengan puluhan orang. Tentu peluang tampil lebih banyak murid B.

Contoh lainnya yang dialami penulis sendiri. Saat ini mengabdikan diri di SMP yang notabene tidak terlalu terkenal. Namun merasa bersyukur. Wasilah bekerja di skeolah tersebut penulis “dipaksa” untuk menjadi “apa-apa”. Belum genap setahun, sudah diamanahi membina pramuka, menjadi ketua panitia acara. Belum genap dua tahun sudah masuk panitia inti Ujian Sekolah, dll. Coba penulis berkerja di sekolah elit yang punya banyak guru dan staf, bisa jadi 3 tahun berlalu, penulis belum jadi apa-apa.

Karena itu, simpulannya, mari tunjukan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Terlepas di manapun kita berada. Jika kita berada di perusahaan/sekolah yang elit, bersyukurlah, kita bisa banyak belajar dari orang-orang sukses yang telah membangun sekolah/perusahan dengan sedemikian baiknya. Jika kita berada di sekolah/perusaaan yang biasa saja, jangn minder. Saatnya buktikan pada dunia, kita bisa.

Adios.

Demikianlah  Catatan Guru: Menjadi Luar Biasa dari Tempat Biasa

 

Be Sociable, Share!

Tinggalkan komentar