Catatan Hati Seorang Guru: Demonstrasi Ala Guru Honorer

Catatan Hati Seorang Guru: Demonstrasi Ala Guru Honorer

Akhir-akhir ini kita disuguhkan ramai berita perihal demo besar-besaran dan mogok kerja nasional para buruh yang menuntut kenaikan UMR (Upah Minimum Regional). Menanggapi hal tersebut saya menulis status di facebook. Begini kira-kira bunyinya “UMR 3,7 juta? Ya Salam. Tahukah bahwa, bahkan masih banyak yang mendapat gaji (upah) kurang dari 10% dari jumlah itu?” Ragam komentar bermunculan. Ada yang mengiyakan, namun ada juga yang tampak tersinggung dengan status itu. Ia bilang bahwa tuntutan UMR itu wajar saja mengingat para buruh selain mendapat beban kerja fisik juga psikis. Ia menambahkan fakta yang menunjukkan betapa besarnya biaya hidup saat ini, terutama di kota.

Menanggapi komen itu tentu saja saya mengiyakan. Toh saya pribadi tidak hendak menyudutkan buruh, itu hak mereka. Titik tekan saya lewat status itu adalah memaparkan  fakta di lapangan masih banyak orang, di luar buruh yang mendapatkan gaji jauh di bawah jumlah UMR. Salah satunya adalah guru honorer, di kota maupun di kampung.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Sulistiyo (dalam Suara Merdeka, 09/09) bahkan memaparkan fakta bahwa saat ini ada sekitar satu juta guru honorer seluruh Indonesia. Gaji mereka jauh dari UMR, atau hanya sekitar Rp. 200.000,00-500.000,00  perbulan.

“Para pekerja (buruh) nasibnya lebih baik daripada guru (honorer). Mereka mendapat jaminan sosial dan kesehatan,” tandasnya.

Pernyataan beliau, sekali lagi, tentu saja tidak hendak menanggapi negatif tuntutan para buruh. Titik tekannya adalah agar pemerintah juga ikut memikirkan kesejahteraan para pahlawan pendidikan. Tugas dan amanah yang diemban para guru rasa-rasanya tidaklah lebih ringan tinimbang para buruh. Mereka adalah salah satu pilar pembangunan bangsa. Di tangan mereka, generasi masa depan sedang dicetak. Tentu saja dedikasi para guru itu selazimnya dihargai setimpal. Paga gilirannya keterjaminan ekonomi para guru (honorer) semoga menjadikan kinerja menjadi lebih maksimal. Kita tak ingin lagi mendengar ada guru yang, demi memenuhi kehidupan keluarga harus berkerja di lain sektor, semisal mengojek atau menjadi kuli di pasar. Aduhai jikalau kondisi memprihatinkan ini dipertahankan, beginikah balasan yang diberikan pada para mencusur pendidikan itu? Ah tentu saja tidak, bukan?

Semoga saja tulisan sederhana ini dapat menggugah pihak-pihak terkait guna merealisasikan tuntutan kesejahteraan para guru honorer. Ini merupakan salah satu bentuk “demonstrasi” yang bisa guru honorer lakukan. Bukan dengan turun ke jalan, melainkan lewat jalur penyampaiaan aspirasi. Semoga berkenan mendengarkan dan merealisasikan, duhai para pembuat kebijakan.

Salam hangat.

Prito Windiarto, Guru (honorer) Bahasa Indonesia, SMP  Muhammadiyah 1 Dayeuhluhur, Cilacap.

****

 

Prito Windiarto lahir di Dayeuhluhur-Cilacap, 25 November 1989.

Catatan Hati Seorang Guru: Demonstrasi Ala Guru Honorer

 

 

Be Sociable, Share!

Leave a Comment